Indonesia Data LogoIndonesia Data

Upskilling Era Digital: Skill Apa yang Bisa Menaikkan Value Profesional Muda Secara Signifikan?

A

Aryono Kurnianto

13 Februari 2026 · 2 menit baca

Upskilling Era Digital: Skill Apa yang Bisa Menaikkan Value Profesional Muda Secara Signifikan?

Indonesia Data · 2025-02-12

Tahun 2030 semakin dekat. Transformasi digital tidak lagi menjadi rencana jangka panjang—ia sedang terjadi sekarang.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Kebutuhan ini bukan sekadar angka ambisius, melainkan respons terhadap percepatan ekonomi digital yang terus berkembang.

Konsep upskilling sendiri sebenarnya bukan hal baru. Sejak revolusi industri pertama, tenaga kerja selalu dipaksa beradaptasi dengan perubahan teknologi. Namun yang membedakan era digital adalah kecepatannya. Siklus perubahan kini berlangsung dalam hitungan tahun, bukan dekade.

Menurut World Economic Forum – Future of Jobs Report 2023, sebagian besar pekerjaan akan mengalami transformasi signifikan dalam dekade ini akibat otomatisasi dan AI. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa keterampilan berbasis teknologi—seperti AI, data analytics, dan cloud computing—termasuk yang pertumbuhannya paling cepat secara global.

Di Indonesia, potensi ekonomi digital juga sangat besar. Laporan regional Google–Temasek–Bain e-Conomy SEA menunjukkan bahwa Indonesia menjadi kontributor terbesar ekonomi digital Asia Tenggara, dengan nilai ekonomi digital yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ini menciptakan peluang kerja baru, tetapi juga memperlebar gap keterampilan.

Riset dari SMERU Research Institute menyoroti bahwa kesiapan digital Indonesia masih menjadi tantangan. Tingkat literasi digital dan pemanfaatan teknologi untuk produktivitas belum merata. Banyak pengguna internet masih memanfaatkan teknologi untuk konsumsi, bukan produksi.

Di sisi lain, survei global seperti AWS–AlphaBeta Digital Skills Study menunjukkan bahwa mayoritas responden di Asia Pasifik menyadari pentingnya keterampilan digital untuk karier mereka. Namun sebagian signifikan juga mengaku belum merasa cukup terampil untuk peran masa depan.

Ini menciptakan paradoks. Kesadaran ada. Kebutuhan ada. Tetapi aksi belum merata.

Menurut laporan Mercer Global Talent Trends, banyak eksekutif global mengidentifikasi kurangnya reskilling dan upskilling sebagai salah satu risiko utama terhadap pertumbuhan bisnis dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, bukan hanya individu yang berisiko tertinggal—organisasi pun demikian.

Lalu skill apa yang benar-benar berdampak pada kenaikan value profesional muda?

Data global dan tren regional menunjukkan pola yang konsisten: kombinasi antara kemampuan teknis digital dan kemampuan manajerial menjadi pembeda utama.

Skill seperti AI literacy, data analytics, cybersecurity, cloud computing, dan digital marketing berada pada spektrum kompetensi dengan pertumbuhan tertinggi. Namun nilai tambah terbesar muncul ketika skill teknis tersebut dikombinasikan dengan kemampuan komunikasi, problem-solving, dan project management.

Data
indonesia
article
skill
data